Untuk Biru Langitku
22/11/2007 - 20:59

Di kehidupan ku saat ini, memang masih dibayangi sosok kehidupan masa silam tertatap wajah si biru langit......
beritahu aku.....kenapa hal ini bisa terjadi....
bayangan itu, selalu hadir dalam setiap mimpiku....
setelah sekian lama berpisah....
setelah sekian lama pula bersama.....
menjalani kehidupan seiya dan sekata....
Dari kebersamaan itu, hanya satu kalimat yang selalu menuntun kehidupan ku hingga aku menjadi tegar dan penuh sikap.
"Aa itu orangnya suka banget mengeluh sih, soba deh diubah, hidup itu jangan penuh keluhan"
Yah...itu kalimat biruku yang selalu menuntun kehidupanku....
hingga kini......
kehidupan andri priatna tak pernah mengenal kata mengeluh....
biar pun cobaan, masalah dan rintangan yang senantiasa menghampiri langkah ku menuju kebahagian hidup.....
Bahkan, sampai aku sendiri bertekad jangan pernah menyerah untuk menjadi orang yang bisa.....
semuanya aku hadapi dengan senyum....
Terima kasih biru ku......
Nopember 2007
RISALAH ILHAM
30/09/2007 - 19:53
Dicuri dari : Kutipan Biru Langit
PUISIKU
Bahasa sayangku yang aneh
Membuatnya pergi
Tanpa menoleh………..
Cirebon, 30 Juni 1996
(dari kutipan:jidut)
Tentangnya….
Ia butuh pengkhianatan,
Untuk mengetahui apa itu setia
Maka demi Allah,…
Kelak ada yang melakukannya
Atau jika tidak,
Kematian adalah kehidupan terbaik saat ini baginya
Maka matilah….
Dengan sepenuh jiwa.
Bandarlampung, Januari 2004
Juga tentangnya….
Suatu hari ia akan pulang,….
Maka ia butuh hati yang lapang dan jiwa yang memaafkan
Agar bisa lagi hadir disini,
Menggenapkan janji yang terabaikan
Kelak dia ingin pulang….
Mengais celah rasa yang mungkin masih tersisa
Agar tak lagi ada yang terluka
Seperti sedia kala
Suatu saat, ia akan benar-benar pulang
Tapi semoga tak lagi mencari di sini
Di relung hati yang tersakiti
Sebab tak ada lagi jiwa yang ingin berbagi
Bandarlampung, 10 Februari 2004
Pergilah…..
Pada kedalaman nurani yang nyaris mati
Dan beri ruh baru
Baginya,
Secuil kebenaran adalah nista
Sebab manusia pendengki
Sebab manusia pendusta
Maka pergilah…
Pada kedalaman nurani yang nyaris mati
Jika cinta pada negeri ini
Bandarlampung, 7 januari 2003
04.04 wib menjelang subuh
Terkutuklah Bandarlampung!
Yang telah disibukkan oleh para WTS
Yang menjajakan diri atas nama cinta
Pada rakyatnya…….
Bandarlampung, waktu yang sama
Cirebon,
Suatu ketika…
Saat syair tak lagi berjeda
Dan penantian,
Telah terbiasa dipeluk rindu yang belum usai
Di mana harus ku sisipkan reffrain kehidupan?
Yang menuntutku untuk bersegera
Jika ruh tak lagi ruh
Dan jiwa tiada lagi bernyawa
Aku terpedaya…..
Dipancung belati yang tumpul
Sesak kehabisan nafas
Aku tidak peduli
Biar, biarkan saja
Toh aku belum mati!//
Cirebon, 28 Februari 1998
(dalam bingkai penyesalan)
Hanya dengan diam…..
Hanya dengan diam kuredam kecewa
Yang mungkin tenggelamkan rindu
Tanpa harus kucari dusta dan airmata
Yang bermuara di lidahmu yang kelu
Atau…..
Dalam nurani bayang-bayang jelmaanku yang perih
Yang tenggelam dalam gelapnya harga diri
Hanya dengan diam kuredam kecewa
Segalanya kukembalikan pada cermin
Perasaanku yang terkubur dalam kepasrahan
Cirebon, 23 Maret 1997
Sebuah kutipan dari: Jidut
Kendati II
(sebuah dialog terbuka)
Bahkan ketika kucium luka
Dan tahiyatku tak lagi kau sapa
Aku tetap mencarimu
Dengan telunjuk yang mulai kaku
Dan bibir yang hampir beku
Sungguh!
Aku akan berkabung dan jiwaku terkurung
Jika kedebuanku tak kau anggap
Apalagi tak kau garap
Lupakanlah, segenap malam yang pernah kita lalui
Barangkali memang jiwaku tak lagi berarti
Tersisih oleh pemuja batu
Yang banyak menyita perhatianmu
Biarkan saja letihku tersia
Aku tak apa-apa.
Cirebon, 8 Maret 1998
Angkuh!
Berhentilah bicara
Simpan nafasmu untuk esok
Sebab harimu bukan kini
Biarkan!
Kalah menemani saat ini
Tapi lihat nanti
Kamu akan bicara dan tersenyum
Ah….damai
Cirebon, 12 April 1996
(dalam kumpulan puisi sunyi biru)
Sketsa
Tiga kupu-kupu kecil
Dengan debu disayapnya
Menuliskan….
Kerlap-kerlip riwayatnya
Ke dalam sajakku
Semua terasa
Seperti sembilu ditangannya
Menusuk ke dalam jantungku
Cirebon, 30 Juni 1996
Gerimis…..
Bau tanah segar…
Cirebon, 7 Oktober 1996
Puisi jarak (jeda)
Lepas!
Bergulir apa adanya
Tapi jiwaku terbahak
Bebaskan segala rasa
Merah…..
Ungu…..
Jingga…
Kelabu….
Aku terlepas!]
Kawan…
Jika nanti malam kau bertemu
Dengan Tuhanmu
Tolong tanyakan,
Mengapa wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki?
Tanjung karang, 8 Maret 2002
( ketika gerimis geram pada petir yang mulai tak sabar)
Tak biasa
Ada yang tak biasa,…
Manakala anyelir menciumi angin yang hendak mengampiri
Hujan…
Mestinya kau berdiam diri pada posisi
Bak seorang putri yang penuh harga diri
Tak perlu menjajakan pada tiap hembusan
Yang tak pandai memaknai semilir
Diam sajalah disitu…
Tuhanmu pasti tahu!
Tanjungkarang, 22 Maret 2002
Bersama statistik yang membuatku menguap!
Kawan....
Tolong sampaikan pada Raqib dan Atid
Untuk sejenak terjaga dari tugasnya
Supaya bapakku bisa bekerja dengan tenang
Dan membuat kami jadi senang!
Tanjungkarang. 24 Maret 2002
Suatu pagi yang gerah!
Untuk kesetiaan waktu yang tak pernah letih pada riwayatnya yang amat rapuh:
Bagi sekumpulan rasa yang tak pernah bisa memahami kemestiannya
Sungguh aku mengagumimu
Dalam tiap detik yang tak pernah tersesali
Pun untuk sebuah ketersejenakan.
Bagian yang tertunda
Beranjak dari kedewasaan yang tertunda
Kuapit resah dipinggir gelisah
Pada datarannya (memang) masih ada sedikit luka
Tapi itu bukan apa-apa
Barangkali,
Menggumam diri atas nama cinta
Adalah jawaban yang paling bijaksana
Menagih waktu
Menagih waktu untuk satu ketenangan sepertinya sia-sia
Jika angin tak rela beradu dengan udara
Dan malam tak ikhlas melepas fajar
Bukan, bukan kerutan kening atau sunggingan senyum semata
Ada lain kisah yang (tentu saja) lebih indah
Cobalah ninabobokan dulu impian kita
Sebab…
Menagih waktu untuk ketenangan tetap akan sia-sia
Selagi ombak enggan membagi buih pada tanah
Kecuali jika saatnya telah tiba
Bandarlampung, 28 September 2000
Datang dan pergi adalah hal biasa
Yang tak biasa adalah manakala waktu
Membebaskan keterpasungan makna
Namun kemudian menuntutnya untuk bersegera-
Memahami kemestian yang terlupa
Aku mencintainya pada pusaran waktu yang tak mesti
Dipahami oleh nalar terlebih logika
Tapi ia cinta nafsu
Ia cinta dunia…
Maka datanglah Perempuan penjaja rasa
Engkau cinta nafsu
Engkau cinta dunia
Akulah nafsu
Akulah dunia
Maka terjadilah percintaan nista itu
Tanpa ragu, tanpa malu
Sebab aku cinta…,
Sebab aku cinta…,
Sebab aku cinta, maka aku pasrah.
Karena cintaku tak mesti dipahami oleh nalar,
Terlebih logika
Karena termiliki dan dimiliki itu sama.
Bandarlampung,18 Januari 2004
Goresan Penyesalan
28/09/2007 - 09:53
Bla...Bla...Bla
Selama tiga tahun aku selalu mengingatnya
Hanya dalam
bayang dan angan belaka
Tapi,
Saat itu, aku kembali menemukannya
Aku teringat masa laluku
Semasa aku bersama dia sembilan tahun lamanya
Bukan waktu yang singkat bukan?
Yah…tapi itu memang kenyataannya
Aku meninggalkannya, saat mendekati Ultah jalinan kasih 17 Januari
Memang benar apa katanya
Kalau aku itu bajingan, penghianat, dan bahasa kasar lainnya
Menampar wajah kusamku
2004, aku meninggalkannya, karena dia bukan pilihan
Tiga tahun berlalu, 24 September 2007
Aku melihat kembali wajahnya
Tersontak, bahkan mengucap syukur
Dia telah menikah dengan lelaki pilihannya
Yah…memang tampan, semoga tak pernah menyakiti dirinya
Demi Allah, aku pun tak rela jika dia disakiti
Toh, tiga tahun itu aku selalu mengingatnya
Tak pernah putus, bahkan kerapkali menghiasi mimpi indahku
Apakah ini yang dikatakan penyesalan
Aku rasa ..”iya”
Tapi, realita selalu berkata lain
Apakah mungkin dan dia dapat bersama
Sementara aku sendiri telah memiliki pasangan hidup
Begitupun dirinya…
Ah, itu hanya sebuah khayalan
Aku hanya berdoa semoga dia hidup dengan bahagia
Biru langitku dulu pasti bisa melupakanku
Tapi, aku sendiri tak yakin
Kalau biruku itu juga mampu melupakannya
Itulah harapanku untuk dirinya
Begitupun dengan hidupku yang telah memiliki seorang anak
Seorang anak yang lucu dan sangat dirindukan
Aku namakan “Rida Rinduni”
Semoga dapat hidup dengan bahagia bersama istriku Rita Angraeni Dewi
Andre Calvalera
28/09/2007 - 09:45

Andri Priatna
Cirebon, 10 Mei 1979
Redaktur Harian Umum Tangerang Tribun
Ruko Batavia, Jalan Boulevard Gading serpong, Kabupaten Tangerang
0852-145455-86
Ny Rita Anggraeni Dewi
Rida Rinduni, Rangkasbitung 4 Oktober 2004
Pengalaman Pendidikan
SDN Pegagan III, Cirebon
SMPN I Palimanan, Cirebon
SMUN I Palimanan, Cirebon
Fakultas Pertanian Sosial Ekonomi Pertanian UJB Yogyakarta
S1 Fakultas Pertanian Agrobisnis UMY
Pengalaman Organisasi
Sekretaris I PMR SMUN I Palimanan (1995)
Ketua Pelaksana Orientasi PMR SMUN I Palimanan (1996)
Anggota Senat Mahasiswa UJB
Ketua BEM FP UJB
Pemimpin Redaksi Majalah Kampus “Zeamays”
Pengalaman Kerja
Dir CV Multatuli Money Changer (2003)
Dewan Penasehat KSU Naretel Jaya (2005)
Reporter Magang "Radar Jogja" (2001)
Reporter Magang "Suara Karya" Yogyakarta (2002)
Reporter HU Tangerang Tribun (2006)
Redaktur HU Tangerang Tribun (2006)
Koordinator Liputan HU Tangerang Tribun (2007)
Redaktur HU Tangerang Tribun (2007)
Div Diklat Jurnalistik HU Tangerang Tribun (2007)
Pengalaman Luar Kerja
Pediklat Jurnalistik SMPI AL Azhar BSD Serpong (2007)
Pediklat Pesantren Jurnalistik HU Tangerang Tribun (2007)
Lokakarya Jurnalistik bersama Dewan Pers (2007)
Pediklat Jurnalistik SMAI Al Azhar BSD Serpong (2007)
Nama-nama Spesial
Injayati (1994)
Masudah Sugiarti (1995)
Eha Nugraha (1996-2003)
Nadiroh (1997)
Eva Apriyani (1997)
Ratna Mustika Sari (1999)
Rita Angraeni Dewi (2003- Istri)





Komentar terakhir
@*dtcomment*@@*titolopost*@
@*nome*@