Halo, saya andrecalvalera
Lihat profil


November 2007

SMTWTFS
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Tag

Syndicate content

Tambahkan ke My Dada

Tambahkan ke My Dada

Share your contents

De.licio.us

Untuk Biru Langitku

by andrecalvalera

22/11/2007 - 20:59



"Aa itu orangnya suka banget mengeluh sih, soba deh diubah, hidup itu jangan penuh keluhan"

Di kehidupan ku saat ini, memang masih dibayangi sosok kehidupan masa silam tertatap wajah si biru langit......
beritahu aku.....kenapa hal ini bisa terjadi....
bayangan itu, selalu hadir dalam setiap mimpiku....
setelah sekian lama berpisah....
setelah sekian lama pula bersama.....
menjalani kehidupan seiya dan sekata....
Dari kebersamaan itu, hanya satu kalimat yang selalu menuntun kehidupan ku hingga aku menjadi tegar dan penuh sikap.

"Aa itu orangnya suka banget mengeluh sih, soba deh diubah, hidup itu jangan penuh keluhan"

Yah...itu kalimat biruku yang selalu menuntun kehidupanku....
hingga kini......
kehidupan andri priatna tak pernah mengenal kata mengeluh....
biar pun cobaan, masalah dan rintangan yang senantiasa menghampiri langkah ku menuju kebahagian hidup.....
Bahkan, sampai aku sendiri bertekad jangan pernah menyerah untuk menjadi orang yang bisa.....
semuanya aku hadapi dengan senyum....
Terima kasih biru ku......

Nopember 2007

RISALAH ILHAM

by andrecalvalera

30/09/2007 - 19:53

Dicuri dari : Kutipan Biru Langit

 

PUISIKU

 

Bahasa sayangku yang aneh

Membuatnya pergi

Tanpa menoleh………..

 

Cirebon, 30 Juni 1996

 

                                                                              (dari kutipan:jidut)

 

Tentangnya….

 

Ia butuh pengkhianatan,

Untuk mengetahui apa itu setia

Maka demi Allah,…

Kelak ada yang melakukannya

Atau jika tidak,

Kematian adalah kehidupan terbaik saat ini baginya

Maka matilah….

Dengan sepenuh jiwa.

 

                                                                          Bandarlampung, Januari 2004

 

Juga tentangnya….

 

Suatu hari ia akan pulang,….

Maka ia butuh hati yang lapang dan jiwa yang memaafkan

Agar bisa lagi hadir disini,

Menggenapkan janji yang terabaikan

Kelak dia ingin pulang….

Mengais celah rasa yang mungkin masih tersisa

Agar tak lagi ada yang terluka

Seperti sedia kala

Suatu saat, ia akan benar-benar pulang

Tapi semoga tak lagi mencari di sini

Di relung hati yang tersakiti

Sebab tak ada lagi jiwa yang ingin berbagi

 

                                                                        Bandarlampung, 10 Februari 2004

 

Pergilah…..

 

Pada kedalaman nurani yang nyaris mati

Dan beri ruh baru

Baginya,

Secuil kebenaran adalah nista

Sebab manusia pendengki

Sebab manusia pendusta

Maka pergilah…

Pada kedalaman nurani yang nyaris mati

Jika cinta pada negeri ini

 

                                                                     Bandarlampung, 7 januari 2003

                                                                           04.04 wib menjelang subuh

 

Terkutuklah Bandarlampung!

 

Yang telah disibukkan oleh para WTS

Yang menjajakan diri atas nama cinta

Pada rakyatnya…….

 

                                                                        Bandarlampung, waktu yang sama

 

Cirebon,

 

Suatu ketika…

Saat syair tak lagi berjeda

Dan penantian,

Telah terbiasa dipeluk rindu yang belum usai

Di mana harus ku sisipkan reffrain kehidupan?

Yang menuntutku untuk bersegera

Jika ruh tak lagi ruh

Dan jiwa  tiada lagi bernyawa

 

Aku terpedaya…..

Dipancung belati yang tumpul

Sesak kehabisan nafas

Aku tidak peduli

Biar, biarkan saja

Toh aku belum mati!//

 

                                                                               Cirebon, 28 Februari 1998

                                                                               (dalam bingkai penyesalan)

 

Hanya dengan diam…..

 

Hanya dengan diam kuredam kecewa

Yang mungkin tenggelamkan rindu

Tanpa harus kucari dusta dan airmata

Yang bermuara di lidahmu yang kelu

Atau…..

Dalam nurani bayang-bayang jelmaanku yang perih

Yang tenggelam dalam gelapnya harga diri

Hanya dengan diam kuredam kecewa

Segalanya kukembalikan pada cermin

Perasaanku yang terkubur dalam kepasrahan

                                                   

 

                                                                              Cirebon, 23 Maret 1997

                                                                         Sebuah kutipan dari: Jidut

 

Kendati II

(sebuah dialog terbuka)

 

Bahkan ketika kucium luka

Dan tahiyatku tak lagi kau sapa

Aku tetap mencarimu

Dengan telunjuk yang mulai kaku

Dan bibir yang hampir beku

Sungguh!

Aku akan berkabung dan jiwaku terkurung

Jika kedebuanku tak kau anggap

Apalagi tak kau garap        

Lupakanlah, segenap malam yang pernah kita lalui

Barangkali memang jiwaku tak lagi berarti

Tersisih oleh pemuja batu

Yang banyak menyita  perhatianmu

 Biarkan saja letihku tersia

Aku tak apa-apa.

 

                                                                                    Cirebon, 8 Maret  1998

 

Angkuh!

 

Berhentilah bicara

Simpan nafasmu untuk esok

Sebab harimu bukan kini

Biarkan!

Kalah menemani saat ini

Tapi lihat nanti

Kamu akan bicara dan tersenyum

Ah….damai

                                                                             Cirebon, 12 April 1996

                                                                  (dalam kumpulan puisi sunyi biru)

 

Sketsa

 

Tiga kupu-kupu kecil

Dengan debu disayapnya

Menuliskan….

Kerlap-kerlip riwayatnya

Ke dalam sajakku

Semua terasa

Seperti sembilu ditangannya

Menusuk ke dalam jantungku

                                                                              Cirebon, 30 Juni 1996

 

Gerimis…..

Bau tanah segar…

 

                                                                             Cirebon, 7 Oktober 1996

 

Puisi jarak (jeda)

Lepas!

Bergulir apa adanya

Tapi jiwaku terbahak

Bebaskan segala rasa

Merah…..

Ungu…..

Jingga…

Kelabu….

Aku terlepas!]

 

Kawan…

Jika nanti malam kau bertemu

Dengan Tuhanmu

Tolong tanyakan,

Mengapa wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki?

 

                                                                   Tanjung karang, 8 Maret 2002

                                 ( ketika gerimis geram pada petir yang mulai tak sabar)

 

 

Tak biasa

Ada yang tak biasa,…

Manakala anyelir menciumi angin yang hendak mengampiri

Hujan…

Mestinya kau berdiam diri pada posisi

Bak seorang putri yang penuh harga diri

Tak perlu menjajakan pada tiap hembusan

Yang tak pandai memaknai semilir

Diam sajalah disitu…

Tuhanmu pasti tahu!

                                                                    Tanjungkarang, 22 Maret 2002

                                                  Bersama statistik yang membuatku menguap!

 

Kawan....

Tolong sampaikan pada Raqib dan Atid

Untuk sejenak terjaga dari tugasnya

Supaya bapakku bisa bekerja dengan tenang

Dan membuat kami jadi senang!

                                                                    Tanjungkarang. 24 Maret 2002

                                                                                Suatu pagi yang gerah!

 

Untuk kesetiaan waktu yang tak pernah letih pada riwayatnya yang amat rapuh:

Bagi sekumpulan rasa yang tak pernah bisa memahami kemestiannya

Sungguh aku mengagumimu

Dalam tiap detik yang tak pernah tersesali

Pun untuk sebuah ketersejenakan.

 

Bagian yang tertunda

Beranjak dari kedewasaan yang tertunda

Kuapit resah dipinggir gelisah

Pada datarannya (memang) masih ada sedikit luka

Tapi itu bukan apa-apa

Barangkali,

Menggumam diri atas nama cinta

Adalah jawaban yang paling bijaksana

 

Menagih waktu

Menagih waktu untuk satu ketenangan sepertinya sia-sia

Jika angin tak rela beradu dengan udara

Dan malam tak ikhlas melepas fajar

Bukan, bukan kerutan kening atau sunggingan senyum semata

Ada lain kisah yang (tentu saja) lebih indah

Cobalah ninabobokan dulu impian kita

Sebab…

Menagih waktu untuk ketenangan tetap akan sia-sia

Selagi ombak enggan membagi buih pada tanah

Kecuali jika saatnya telah tiba

 

                                                             Bandarlampung, 28 September 2000

 

Datang dan pergi adalah hal biasa

Yang tak biasa adalah manakala waktu

Membebaskan keterpasungan makna

Namun kemudian menuntutnya untuk bersegera-

Memahami kemestian yang terlupa

Aku mencintainya pada  pusaran waktu yang tak mesti

Dipahami oleh nalar terlebih logika

Tapi ia cinta nafsu

Ia cinta dunia…

Maka datanglah Perempuan  penjaja rasa

Engkau cinta nafsu

Engkau cinta dunia

Akulah nafsu

Akulah dunia

Maka terjadilah percintaan nista itu

Tanpa ragu, tanpa malu

Sebab aku cinta…,

Sebab aku cinta…,

Sebab aku cinta, maka aku pasrah.

Karena cintaku tak mesti dipahami oleh nalar,

Terlebih logika

Karena termiliki dan dimiliki itu sama.

 

                                                                   Bandarlampung,18 Januari 2004

 

Goresan Penyesalan

by andrecalvalera

28/09/2007 - 09:53


Bla...Bla...Bla

 

Selama tiga tahun aku selalu mengingatnya

Hanya dalam bayang dan angan belaka

Tapi,

Saat itu, aku kembali menemukannya

Aku teringat masa laluku

Semasa aku bersama dia sembilan tahun lamanya

Bukan waktu yang singkat bukan?

Yah…tapi itu memang kenyataannya

Aku meninggalkannya, saat mendekati Ultah jalinan kasih 17 Januari

Memang benar apa katanya

Kalau aku itu bajingan, penghianat, dan bahasa kasar lainnya

Menampar wajah kusamku

2004, aku meninggalkannya, karena dia bukan pilihan

Tiga tahun berlalu, 24 September 2007

Aku melihat kembali wajahnya

Tersontak, bahkan mengucap syukur

Dia telah menikah dengan lelaki pilihannya

Yah…memang tampan, semoga tak pernah menyakiti dirinya

Demi Allah, aku pun tak rela jika dia disakiti

Toh, tiga tahun itu aku selalu mengingatnya

Tak pernah putus, bahkan kerapkali menghiasi mimpi indahku

Apakah ini yang dikatakan penyesalan

Aku rasa ..”iya”

Tapi, realita selalu berkata lain

Apakah mungkin dan dia dapat bersama

Sementara aku sendiri telah memiliki pasangan hidup

Begitupun dirinya…

Ah, itu hanya sebuah khayalan

Aku hanya berdoa semoga dia hidup dengan bahagia

Biru langitku dulu pasti bisa melupakanku

Tapi, aku sendiri tak yakin

Kalau biruku itu juga mampu melupakannya

Itulah harapanku untuk dirinya

Begitupun dengan hidupku yang telah memiliki seorang anak

Seorang anak yang lucu dan sangat dirindukan

Aku namakan “Rida Rinduni”

Semoga dapat hidup dengan bahagia bersama istriku Rita Angraeni Dewi

 

Andre Calvalera

by andrecalvalera

28/09/2007 - 09:45

Curriculum Vitae Andre Calvalera


Andri Priatna

Cirebon, 10 Mei 1979

Redaktur Harian Umum Tangerang Tribun

Ruko Batavia, Jalan Boulevard Gading serpong, Kabupaten Tangerang

0852-145455-86

Ny Rita Anggraeni Dewi

Rida Rinduni, Rangkasbitung 4 Oktober 2004

 

Pengalaman Pendidikan

SDN Pegagan III, Cirebon

SMPN I Palimanan, Cirebon

SMUN I Palimanan, Cirebon

Fakultas Pertanian Sosial Ekonomi Pertanian UJB Yogyakarta

S1 Fakultas Pertanian Agrobisnis UMY

 

Pengalaman Organisasi

Sekretaris I PMR SMUN I Palimanan (1995)

Ketua Pelaksana Orientasi PMR SMUN I Palimanan (1996)

Anggota Senat Mahasiswa UJB

Ketua BEM FP UJB

Pemimpin Redaksi Majalah Kampus “Zeamays”

 

Pengalaman Kerja

Dir CV Multatuli Money Changer (2003)

Dewan Penasehat KSU Naretel Jaya (2005)

Reporter Magang "Radar Jogja" (2001)

Reporter Magang "Suara Karya" Yogyakarta (2002)

Reporter HU Tangerang Tribun  (2006)

Redaktur HU Tangerang Tribun (2006)

Koordinator Liputan HU Tangerang Tribun (2007)

Redaktur HU Tangerang Tribun (2007)

Div Diklat Jurnalistik HU Tangerang Tribun (2007)

 

Pengalaman Luar Kerja

Pediklat Jurnalistik SMPI AL Azhar BSD Serpong (2007)

Pediklat Pesantren Jurnalistik HU Tangerang Tribun (2007)

Lokakarya Jurnalistik bersama  Dewan Pers (2007)

Pediklat Jurnalistik SMAI Al Azhar BSD Serpong (2007)

Nama-nama Spesial

Injayati (1994)

Masudah Sugiarti (1995)

Eha Nugraha (1996-2003)

Nadiroh (1997)

Eva Apriyani (1997)

Ratna Mustika Sari (1999)

Rita Angraeni Dewi (2003- Istri)

 

Komentar terakhir

Latest posts

My favorit links